Blog Akhir Tahun 2022

Sengaja banget bikin postingan di akhir tahun. Memang sengaja, tapi sekalian ada beberapa hal yang pengen diceritain.Ya, tahun ini ada banyak hal yang gue alami, tetapi gue akan menceritakan secara spesifik yang ini saja.

Pada blog ini gue cuma pengen cerita tentang jalan-jalan gue ke Museum Nasional pada hari Jumat, 30 Desember 2022 alias kemarin sebelum blog ini terbit. Gue ke sana sebenernya karena impulsif gue pengen gambar-gambar di sana. 

Perjalanan

Gue ke Museum Nasional awalnya adalah pada tanggal 18 Desember 2022 ketika ada pameran Kopi Togetherness. Gue ke situ bersama pacar gue, dan dua orang teman. Tanpa menghitung pameran itu, sebenarnya sudah lama sekali gue nggak ke Museum Nasional. Kalau gue nggak salah ingat, gue terakhir kali ke sana sudah di pertengahan 2019 lalu ketika gue pertama kali ketemuan dengan pacar gue, tepatnya masih sebelum jadi pacar (yang gue ceritakan di sini). Kala itu, harga tiketnya masih cuma Rp 5000,- saja untuk satu tiket pengunjung dewasa. Sekarang, harganya sudah jadi Rp 15.000,- untuk satu tiket pengunjung dewasa.

Oh iya, gue ke sini seharusnya tidak sendirian. Ada salah seorang temen gue yang seharusnya ikut, tapi karena cuaca dan hal lainnya, temen gue nggak jadi nyusul ke sini. Ya sudah memang kondisi (terutama cuaca) lagi nggak bagus juga di bulan ini. Nggak, pacar gue juga nggak bisa ikut karena dia sedang shift-nya untuk bekerja, sedangkan tempat kerja gue sedang libur. 

Gue berangkat kesiangan banget. Seharusnya gue berangkat lebih awal saja, tapi kok ya malah sesiang itu berangkatnya. Karena beberapa hari sebelumnya ada lembaga-lembaga pemerintahan (yang nggak usah gue sebut siapa) yang berkata bahwa Jabodetabek akan dihantam hujan angin atau badai, gue juga awalnya ragu untuk pergi di hari itu. Namun gue tetap jadiin aja untuk pergi karena memang hari ini (hari blog ini terbit), gue nggak mau pergi ke tempat-tempat yang jauh dari rumah. Gue menggunakan KRL dari Stasiun Jurangmangu, dan turun di Stasiun Tanah Abang. Di antara perjalanan ini tentunya ada hujan mengguyur meskipun durasinya tidak lama, maupun intensitasnya yang tidak besar.

Dari Stasiun Tanah Abang itu, gue melanjutkan perjalanan ke Museum Nasional dengan menggunakan ojek daring. Setibanya di sana, terasa aneh karena kurang dari dua minggu setelah kunjungan terakhir yang gue sebut di atas, gue sudah di sini lagi. Setelah membeli tiket, dan karena gue membawa tas ransel, gue harus titip di loker dan mengeluarkan barang-barang yang gue perlukan saat di masuk ke ruang-ruang museum: alat tulis, buku sketsa dan tablet Galaxy Tab gue (meski pada akhirnya nggak pake tablet ini selain cuma jadi alas).

Meski gue ke sini baru hampir dua minggu lalu, tapi rasa takjub gue masih sama seperti ketika gue berkunjung di kunjungan sebelumnya itu. Gue melihat banyak relik/artefak/barang-barang kuno yang gue nggak sangka bahwa orang Indonesia di masa dulu mampu membuat barang-barang seperti ini (terlepas replika ataupun bukan). Gue ke beberapa ruang pajang, tentunya sambil membuka buku sketsa gue, dan mulai menggambar hal-hal yang gue lihat menarik. Di bawah ini adalah penjelasannya. 

Gambar-Menggambar

Gambar di atas adalah halaman pertama sketsa gue. Gue memulai dengan menggambar beberapa patung/arca yang ada di area outdoor museum. Gue akui sketsanya masih terasa kurang, tepatnya terasa kurang niat. Mungkin juga karena masih halaman pertama. Namun karena halaman ini menggunakan pensil, kebiasaan jelek gue adalah adanya kecenderungan gue akan menghapus bagian yang salah; ya namanya juga menggambar pakai pensil kan. Tidak salah kok menggunakan pensil, namun dari sini gue temui bahwa pensil kurang cocok untuk gue saat ini. 

Gambar di atas adalah sudah masuk ruang pajang yang di dalam. Yang alat musik puwi-puwi dan talindo itu karena objeknya gampang digambar. Namun ketika gue bergerak ke ruang pajang topeng adat, gue... Merasa sedikit merinding sih hahahaha. Mungkin karena topeng-topengnya agak seram dan tujuan penggunaan aslinya. Namun yang eye-catching buat gue adalah topeng barong lembu dari Bali. Topengnya merah, matanya besar-besar, dekorasinya menarik, buat gue topeng yang ini benar-benar menarik. Oh iya, ruang pajang topeng adat dan wayang adalah ruang yang belum sempat gue kunjungi di 18 Desember itu, sehingga ini pertama kalinya gue masuk ke ruang ini.

Kemudian gambar yang ini adalah di ruang senjata tradisional. Lagi-lagi karena sebelumnya nggak masuk ruang ini, pertama kalinya gue melihat apa yang ada di dalam. Pedang alamang asli keren banget, gue suka bulu yang ada di ujung belakang pegangan. Kemudian kujang yang ada di tengah seharusnya bisa digambar lebih baik, tapi seperti gabungan kujang biasa dengan kapak karena bagian tengah-tengahnya seperti itu. Golok pontang buat gue dekorasi sarungnya yang menarik.

Pada halaman ini, isinya adalah alat bercocok tanam yang ada di masa lalu. Menariknya objek yang gue gambar ini adalah bentuknya yang tidak seperti alat pertanian yang ada di masa kini. Pacul dan sekop adalah dua objek yang buat gue pribadi sangat unik. Oh iya halaman ini gambarnya terbalik karena gue sedikit buru-buru menggambar di sana. Harus segera cari makan siang dan juga pulang supaya nggak bentrok dengan orang-orang yang pulang kerja (tentu saja pulangnya kereta penuh).

Dan ini untuk halaman terakhir, ini adalah kapak yang disebut hanya dipakai di upacara (mungkin keagamaan) di masa lalu, di Pulau Rote di Nusa Tenggara Timur. Wujudnya pun tidak kalah unik karena mengutamakan bentuk lingkaran/circular di dalamnya; tetapi secara keseluruhan, dimensinya adalah pipih/datar. 

Setelahnya, gue pergi makan siang di Claypot Popo yang ada di Jl. Sabang (sekitar 900 meter dari Museum Nasional). Gue suka masakan yang ada di sana. Anggaplah ketagihan hahahaha. Tetapi memang sengaja juga perjalanan kemarin itu untuk ke tempat ini juga.

Akhirnya

Pada akhir hari, gue kembali pulang ke rumah dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Jurangmangu. Oh iya karena ini sudah akhir tahun, cuacanya benar-benar tidak menentu. Gue baru tiba di Stasiun Jurangmangu, langsung hujan. Gue tiba di Stasiun Tanah Abang, langsung hujan deras juga. Tetapi untung hujannya tidak lama, sehingga gue tidak terjebak di tempat-tempat itu terlalu lama juga. Secara durasi pun gue tidak lama berada di Museum Nasional, tetapi gue sudah cukup puas bisa menghasilkan sketsa-sketsa ini.

Sampai jumpa di 2023!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Film UItraman Blazar Tayang di Jakarta

Ketemu Jodoh dengan Bantuan Aplikasi? Bagian Akhir